Sabtu, 19 Desember 2009

Etika Bisnis Farmasi

Etika Bisnis Farmasi
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/02/15/073954/894368/471/etika-bisnis-farmasi

Jakarta - Di sebuah lorong poliklinik sebuah rumah sakit serombongan duta farmasi (medical representatives) mencegat seorang dokter untuk menjelaskan tentang obat yang dipromosikannya. Seorang duta farmasi membuka pertemuan dengan bertanya "dokter untuk kasus gangguan saluran cerna berapa obat esomeprazole sodium yang dokter resepkan untuk seorang pasien sehari?"

Si dokter berkata, "sepanjang yang saya tahu obat ini diberikan 1 kali sehari". Duta farmasi lalu berkata "kasihannya pasien dokter, sekarang bisa sampai 6 kali sehari lho dok". Si dokter sangat terkejut dan berkata "anda bisa tunjukkan artikel penelitiannya pada saya?"

"Oh itu off label (pemakaian di luar indikasi medis yang seharusnya) dok". Dokter tadi berkata, "bila itu off label tentu saya tidak mau, itu akan merugikan pasien yang saya rawat".

Pulang dari praktek di malam hari dokter tadi mampir ke sebuah warnet dan menemukan bahwa esomeprazole sodium digunakan dengan dosis 1 kali sehari menurut situs FDA (balai POM di Amerika Serikat) dan MIMS. Kedua situs tersebut merupakan situs yang sangat terpercaya untuk informasi obat, dan tentu memiliki akuntabilitas yang jauh lebih baik daripada keterangan lisan sang duta farmasi. Pertanyaan menarik yang muncul adalah kenapa duta farmasi "nekat" memberikan informasi demikian.

Informasi yang Benar
Dokter yang bertugas di rumah sakit atau puskesmas pada umumnya menggunakan proses abdikasi (mengikuti kata dokter senior atau ilmu yang diperoleh di saat pendidikan) dan induksi (berdasar pengalaman klinis) dalam pengambilan keputusan klinis.

Proses abdikasi tentu saja tidak boleh terus menerus dipakai karena perkembangan ilmu kedokteran yang sangat cepat. Sebuah obat yang baru diluncurkan dapat saja kemudian ditarik seteleh beberapa waktu karena terbukti berbahaya bagi pasien. Pada kondisi kerja yang sibuk, informasi dari para duta farmasi tentu saja dijadikan salah satu sumber informasi.

Informasi yang diberikan oleh para duta farmasi seringkali dalam bentuk lisan atau leaflet yang berisi informasi produk. Cukup jarang para duta farmasi memberikan artikel ilmiah yang terpercaya (diterbitkan oleh jurnal ilmiah kedokteran yang bergengsi). Bila pun diberikan artikel tentu pula tidak semua dokter mau dan sempat membacanya.

Meminta para dokter untuk secara aktif mencari informasi di internet tentu pula tidak mudah. Kesibukan dan keterbatasan teknologi tentu bisa dijadikan alasan.

Informasi dari para duta farmasi yang diberikan secara lisan maupun dalam bentuk leaflet tentu saja terancam bias kepentingan. Sama seperti slogan "semua kecap adalah nomor satu", maka tentu saja ada upaya untuk mempromosikan produknya sebagai obat yang paling baik.

Tidak jarang pula nama dokter senior atau dokter yang memiliki pasien yang banyak dicatut. Sudah selayaknyalah informasi yang diberikan pada para dokter mengacu pada artikel ilmiah yang asli. Sebuah artikel ilmiah tentu merupakan sumber yang dapat terpercaya. Sebuah publikasi ilmiah tentu akan disunting oleh tim redaksi jurnal kedokteran yang terpercaya.

Di dalam istilah Evidence Based Medicine (kedokteran berbasis bukti), maka informasi yang paling dapat dipercaya adalah informasi yang berasal dari penelitian yang dilakukan dengan kaidah ilmiah yang baik. Informasi yang tidak benar dan secara "mentah-mentah" diterima oleh dokter tentu saja memiliki dampak yang kurang baik.

Dampak pertama adalah munculnya efek samping yang merugikan pasien. Sebuah obat bagaikan pisau yang bermata dua. Di satu sisi obat memiliki efek terapetik yang menyembuhkan. Namun, di sisi lain obat memiliki efek samping yang merugikan. Pemakaian obat yang berlebih (baik dosis maupun lama pemakaian) tentu akan memunculkan efek samping yang merugikan pasien.

Dampak kedua yang muncul adalah peningkatan biaya pengobatan yang harus dibayar pasien. Bayangkan bila dokter di awal kisah meresepkan obat sampai 6 kali sehari, maka pasien akan membayar 6 kali lipat dari yang seharusnya.

Etika Promosi
Promosi obat merupakan hal yang sangat sah. Namun, tentu saja harus didukung oleh bukti ilmiah yang baik. Penelitian yang dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmiah yang baik tentu akan lebih dipercaya. Pada saat promosi sebuah produk farmasi maka seharusnya seorang duta farmasi memberikan informasi yang beanr.

Sudah sepatutnya bahwa keinginan untuk memperoleh bonus dan omset yang sebesar-besarnya tidak dijadikan sebagai dasar pemberian informasi. Tanggung jawab tentu saja tidak semata-mata ditanggung oleh para duta farmasi. Pada umumnya ada proses pelatihan yang sistematis sebelum duta farmasi dipercaya untuk mempromosikan obat. Proses ini tentu pula harus
dibenahi.

Para dokter tentu juga harus bersikap bijak dan kritis. Informasi yang diberikan oleh para duta farmasi (medical representatives) harus ditelaah secara kritis. Para dokter seyogyanyalah mengacu pada sumber-sumber informasi yang lebih dapat dipertanggunjawabkan.

Para dokter tentu harus mau terus memperbaharui diri dengan membaca artikel kedokteran terbaru, menghadiri kongres-kongres perhimpunan dokter, dan mengikuti guideline-guideline (standar pelayanan medik) yang terbaik.

Kongres-kongres perhimpunan pun belum tentu bebas dari kepentingan industri farmasi. Dalam editorial terbaru di British Medical Journal, Godle (2008) menjelaskan bagaimana para pembicara (terutama para pakar dari perguruan tinggi) tidak bisa begitu saja bebas dari pengaruh industri farmasi.

Pasti ada iming-iming tertentu dari perusahaan farmasi untuk lebih menonjolkan produk obatnya dibanding produk obat lain. Seorang rekan dalam sebuah kongres perhimpunan dokter pernah berkata "kita ini bingung, untuk penyakit yang sama, beberapa obat diklaim sebagai yang terbaik, bukankah seharusnya hanya satu yang terbaik?"

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar farmakalogi belum lama ini, Prof dr. Iwan Dwiprahasto, MSc, PhD mengingatkan bahwa sudah selayaknya para dokter terus menerus memperbaharui kelimuannya melalui sumber-sumber yang dapat dipercaya. Profesi yang luhur ini tidaklah sepatutnya dicemari oleh kepentingan bisnis industri farmasi. Hubungan dokter dan industri farmasi yang bersifat seimbang dan lebih mengedepankan sisi ilmiah tentu saja diharapkan terus membaik.

Bonus berupa uang atau jalan-jalan ditengarai diterima oleh sejumlah sangat kecil oknum untuk suatu target perespan tertentu. Suatu hal yang sangat sulit untuk dibuktikan. Hal ini akan merugikan pasien yang harus membayar lebih untuk obat yang seharusnya tidak ia terima. Upaya perbaikan terus menerus harus dilakukan di masa mendatang.

Seorang guru penulis pernah mengingatkan penulis "kita (dokter) harus selalu memberikan obat yang kita pahami benar, keadaan penyakit yang kita tahu benar, pada pasien yang sebagian besar tidak tahu apa-apa". Peresepan rasional bagi pasien menjadi tanggung jawab dokter. Pasien telah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada dokter. Sebuah kepercayaan tidaklah seharusnya dicemari oleh kepentingan bisnis industri.

0 komentar: